Pengalaman M Subhan SD Di Mekah

Ketika hendak memulai thawaf memutari Ka'bah di Mekkah pada Kamis (22/3) tengah malam, saya melihat betapa begitu banyak kaum Muslim yang memenuhi pelataran tengah Masjidil Haram itu. Biasanya pemandangan orang-orang yang thawaf dan shalat sepenuh itu dijumpai saat musim haji sewaktu jutaan orang dari berbagai penjuru dunia berkumpul bersamaan pada tempat dan waktu yang sama seperti saya rasakan tahun 2009. Atau biasa dijumpai saat Ramadhan ketika banyak orang mengejar keutamaan umrah pada bulan penuh berkah itu seperti pernah pula merasakan pada tahun 1996.

Namun malam Jumat (23/3/2012) kemarin, suasana mirip haji atau Ramadhan benar-benar terasa. Dan siangnya, ketika hendak shalat Jumat, terpaksa harus shalat di pelataran luar Masjidil Haram karena di areal dalam masjid telah penuh.

Askar sudah melarang untuk memasuki masjid. Untuk masuk ke sisi masjid saja harus berdesak-desakan. Padahal, ketika hendak berangkat dari Hotel Massa, tempat menginap yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari masjid, sekitar satu jam sebelum waktu shalat, roomboy bernama Ari yang asal Indonesia (Tangerang) mengingatkan, "Kalau Jumat pasti penuh." Ternyata, waktu hampir satu jam untuk jarak 200 meter saja, tak cukup untuk bisa menembus ke dalam masjid. Sungguh luar biasa!

Betapa makin banyak saja orang yang melakukan umrah, bahkan sekarang ini hampir setiap waktu. Orang-orang Indonesia seperti tak pernah berhenti untuk melakukan perjalanan ruhani ke Baitullah. Apalagi ibadah haji makin sulit karena harus menunggu antrean bertahun-tahun.
Kini, di depan Kabah, saya merasakan kerinduan kembali umat Islam kepada agamanya. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia, mulai benua Eropa, Afrika, Asia, Amerika, Australia.

Yang menggembirakan makin banyak orang Indonesia yang mengalihkan tujuan perjalanannya. Mereka kini banyak yang memilih berwisata ziarah ke Tanah Haram, yakni dengan menunaikan ibadah umrah.

"Dulu orang-orang Indonesia sebentar-sebentar pergi ke Paris, London, Tokyo, New York. Tapi sekarang, orang kita sebentar-sebentar umrah, sebentar-sebentar umrah," ujar Ustadz Syarif Hidayat, pembimbing saat memberikan tausiyah dalam perjalanan Madinah-Mekkah yang ditempu sekitar enam jam.

Kembali ke agama
Perubahan sikap dalam beragama memang menjadi fenomena menarik dalam 20 tahun terakhir ini. Banyak terjadi ironi dalam modernisasi.

Akibat berbagai kemajuan, justru membuat tidak sedikit orang yang teralienasi dari kehidupan. Mereka mengalami kegersangan jiwa. Nyatanya tidak bisa menemukan segalanya atau merasa puas dengan hasil akal pikiran manusia.

Akhirnya banyak warga dunia yang kembali ke alam spiritualisme, kembali ke agama. Sejak lebih 20 tahun silam, banyak warga AS membawa keluarganya kembali ke gereja-gereja. Padahal 20 tahun sebelumnya, mereka menolak itu.

Di negara-negara komunis seperti Uni Soviet (saat itu) dan China, bahkan banyak kaum mudanya terpesona dengan ajaran-ajaran agama. Gerakan perlawanan terhadap gaya hidup kebarat-baratan tumbuh di Iran, Afganistan, Timur Tengah, termasuk juga di Indonesia walau dalam lingkup tidak masif.

Agama ternyata tidak layu oleh modernitas. Dalam khutbah Jumatnya kemarin di Masjidil Haram, khotib mengatakan bahwa agama justru membawa umat manusia dari abad kegelapan menuju abad terang benderang.

Penyucian hati
Tak mengherankan, lebih 20 tahun silam, futurolog John Naisbitt dan Patricia Aburdene (Megatrends 2000, 1990), telah memprediksikan bahwa kebangkitan agama menjadi tren jelang abad ke-21. Bagi Naisbitt dan Aburdene, tren itu muncul sebagai jawaban terhadap kegagalan yang diterapkan peradaban Barat. Naisbitt dan Aburdene rasanya tidak keliru.

Kini, di depan Ka'bah, saya merasakan kerinduan kembali umat Islam kepada agamanya. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia, mulai benua Eropa, Afrika, Asia, Amerika, Australia. Orang Indonesia yang merupakan bagian dari lingkungan masyarakat global, juga makin banyak yang berumrah.

Berumrah tidak lagi mengenal musim, karena dilakukan hampir setiap waktu, tentunya di luar musim haji. Masjidil Haram di Mekkah juga Masjid Nabawi di Madinah, tampak seperti lautan manusia yang tak pernah kosong kapan pun juga. Boleh jadi mereka ingat betul sabda Nabi Muhammad SAW tentang umrah.

Dari Abu Hurairah, "Nabi bersabda bahwa dari umrah ke umrah berikutnya adalah sebagai penebus dosa di antara keduanya, dan haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga". Dengan umrah tentunya ada proses penyujian hati, seperti hadits Nabi yang juga disampaikan oleh Abu Hurairah bahwa, "barang siapa yang menunaikan ibadah haji/umah karena Allah SWT lalu ia tidak berkata kotor dan tidak maksiat, niscaya ia kembali (ke negerinya) seperti ketika ia dilahirkan ibunya". Bagi yang ikhlas dan menjaga perilaku baiknya, maka umrah bisa menjadikan kita seperti lembaran putih kembali. Labbaik Allahumma labbaik...

0 Response to "Pengalaman M Subhan SD Di Mekah"

Posting Komentar