Tungku Tigo Sajarangan

Tulisan dengan huruf-huruf sanskerta terdapat pada situs "Tungku Tigo Sajarangan" di Nagari Tuo Pariagan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, (daerah asal-usul budaya dan etnis Minangkabau) telah memudar termakan usia.

Pantauan ANTARA di Situs Cagar Budaya "Tungku Tigo Sajarangan" di Nagari Tuo Pariagan, Selasa, menyingkap huruf-huruf sansekerta di situs berupa batu alam runcing ukuran "raksasa" itu nampak samar bahkan sepintas sulit terlihat. Tulisan sansekerta itu baru terlihat jika diamati secara seksama dalam beberapa menit, nampak tulisan yang tidak dimengerti orang awam, namun terukir di batu dan tersusun rapi.

Memudarnya tulisan yang dibuat terukir itu, karena tertutup debu dan seperti kurang perawatan. Di batu tersebut nampak bintik-bintik ceceran zat warna biru dari kegiatan pengecatan kayu-kayu atap bangunan penutup situs budaya tersebut. Pengecatan tersebut dilakukan beberapa waktu lalu, namun karena kurang cermat dan teliti sehingga banyak ceceran cat jatuh dan berserakan dalam bentuk bintik-bintik biru di batu prasasti itu.

Menurut Wali Nagari Pariagan, A Khatib Saidi situs "Tungku Tigo Sajarangan" di Nagari Tuo Pariagan, berjumlah tiga buah sebagai yang tersusun sepersegi tiga dengan jarak masing-masing batu 500 meter. Tiga prasasti dari batu-batu raksasa itu sebagai tanda pembentukan wilayah penyebaran adat dan masyarakat etnis Minangkabau tempo dulu, yang dipecah menjadi tiga wilayah yakni Luak Tanah Datar, 50 Kota dan Agam yang ketiganya kemudian menjadi daerah administrasi Kabupaten hingga saat ini, katanya.

Memudarnya tulisanya sanskerta di tiga prasasti "Tungku Tigo Sajarangan" juga pernah diungkapkan peneliti arsitektur Minang dari Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Bung Hatta, Dr Eko Alvares. Menurut dia, tiga batu prasasti tersebut telah dipagar dan dilindungi pemerintah sebagai salah satu situs cagar budaya di Pariangan.

Dari cerita sejarah masyarakat setempat, terdapat sumber air panas yang terletak di tengah antara ketiga batu tersebut, tambahnya. Ia mengatakan, air panas yang keluar dipercaya sebagai air yang seolah-olah dimasak oleh sebuah tungku yang terbuat dari susunan tiga batu tersebut.

Alvares menjelaskan, Nagari Pariangan yang memiliki wilayah seluas 17,97 KM2 itu telah ditetapkan pemerintah sebagai salah satu objek wisata khususnya wisata budaya. Nagari ini terletak di lereng gunung Merapi pada ketinggian 500 hingga 700 meter di atas permukaan laut. Pariangan terdiri dari empat koto, dengan tujuh suku yakni, Koto, Piliang, Dalimo, Sikumbang, Pisang, Malayu, dan Guci.

0 Response to "Tungku Tigo Sajarangan"

Posting Komentar