Keseimbangan Antara keluarga Dan Pekerjaan Harus Diterapkan, Mengapa?

Aktivitas padat serta tuntutan untuk menyeimbangkan waktu antara keluarga dan pekerjaan membuat banyak wanita gerah sehingga ingin menyerah mengakhiri pernikahan dengan perceraian.

Survei yang digagas oleh Women’s Health dan Men’s Health terhadap 1400 pria dan wanita mengungkapkan fakta yang cukup mengejutkan .

Awalnya, survei ini bertujuan untuk mencari tahu masalah rumahtangga kebanyakan pasangan suami istri di dunia.

Namun, informasi yang berhasil terkumpul mengungkapkan sesuatu yang  di luar dugaan.

Sebanyak 53 persen wanita berfantasi ingin berpisah dan bercerai dari suami masing-masing.

Sementara itu, 44 persen pria tidak pernah memikirkan perceraian sama sekali.

Para peneliti pun menghubungkan temuan ini dengan hasil studi dari Standford University yang menyebutkan bahwa 69 inisiatif perceraian datang dari pihak istri.

“Angka ini dan keinginan cerai tidak membuktikan bahwa pria lebih bahagia setelah menikah,” jelas Laura Doyle, seorang konsultan rumahtangga dan penulis First, Kill All the Marriage Counselors.

Menurut Doyle, survei ini membuktikan bahwa wanita lebih realistis ketika berada dalam kondisi yang membuat mereka tak lagi bahagia.

Lalu, Doyle pun mengungkapkan teori mengenai hasil survei.

Dia mengatakan bahwa wanita lebih peka dan sering terbawa perasaan. Alhasil, wanita rutin mengevaluasi suhu hubungan dalam kondisi apapun.

Namun, pria sama sekali tidak pernah menganggap masalah kecil dalam rumahtangga terlalu penting, kecuali pasangan melakukan perselingkuhan dengan pria lain.

0 Response to "Keseimbangan Antara keluarga Dan Pekerjaan Harus Diterapkan, Mengapa?"

Poskan Komentar