Mengapa Anak Modern Tidak Tahu Tradisi Keluarga

Era teknologi telah memperlihatkan dampak negatif dalam kehidupan anak-anak sekolah dan remaja.

Survei memperlihatkan bahwa tingginya jumlah orangtua yang mengizinkan anak bermain gadget atau gawai sekurang-kurangnya 32 jam dalam sepekan, telah membuat mereka tak lagi mengenal tradisi keluarga dan kebersamaan.

Survei yang digagas oleh situs keluarga MyFamilyClub, menemukan bahwa tradisi makan pagi yang hangat sebelum berangkat sekolah, telah tergantikan dengan sesi bermain gawai selama satu jam.

Kebiasaan bermain gawai sebelum sekolah, menurut pakar, menurunkan konsentrasi belajar anak sebanyak 49 persen.

Orangtua harus waspada mengenai perguliran teknologi yang mencuri masa kecil anak-anak. Selain itu, bermain gawai secara negatif mempengaruhi kemampuan anak untuk berkomunikasi tatap muka.

Menariknya, sebanyak 67 persen orangtua mengeluh karena mereka tidak tahu cara mengatasi atau menghentikan kegemaran anak bermain gawai.

Hilda Burke, Psikoterapis yang memimpin survei mengatakan bahwa kegemaran anak bermain gawai bisa berhenti, jika orangtua tidak menggunakan gawai di depan mereka.

“Anak akan selalu menyontek dan meniru perilaku orangtua, siklus ini terjadi semenjak anak masih bayi,” jelas Burke.

Orangtua, kata Burke, harus segera bertindak berhenti menggunakan gawai secara harfiah dan figuratif.

“Perlahan, anak akan mencoba dan meniru orangtua yang tidak lagi menggunakan atau bermain gawai di rumah,” imbuhnya.

Selain itu, dampak paling mengkhawatirkan adalah hilangnya tradisi dan ritual kekeluargaan dalam sebuah rumahtangga karena anak-anak terlanjur kecanduan gawai.

0 Response to "Mengapa Anak Modern Tidak Tahu Tradisi Keluarga"

Poskan Komentar